Why do you want to learn Japanese? Is it because you like reading anime, watching dorama, and listening to J-Pop? Is it related to your current or future job or education? Or is it just because you love Japan and its culture? Maybe we would have different answers of those questions. The same thing is that we are willing to learn Japanese language and of course its culture. Because each country has different way or method of using language, we will learn about what are common and proper expressions or sayings among Japan society.

Like learning other languages, learning Japanese will need our commitment and passion. Because we are not native, of course it would be difficult for us to learn, pronoun, and understand it for the first time. But don’t make it as a burden. We just have to learn it slowly, consistently, but surely. And there are so many ways to make it more enjoyable. Read my article How To Learn Foreign Languages With Fun.

This Japanese lesson will contain 50 lessons that I will post under “Learning Japanese” category. Firstly, I will introduce basic syllables in Japanese. There are 46 syllables. Actually, those are unit of sounds, so each of its elements represent a sound. It’s not so difficult to pronoun. Except for the exceptions, we just have to read what is already written on it. It would be easy for us to remember it as long as we obey the standard pattern and rhythm.

There are 2 kinds of Japanese syllables, Hiragana and Katakana. Hiragana is mostly used to make Japanese words. Katakana is used to make loanwords or foreign names, so that Japanese person would not confuse with what we’re trying to say. They have the same amount and kind of syllables but with differences in writing kanji. We can see it below..

Hiragana

Katakana

Click here to know how to pronounce the syllables

Credit: NHK World Radio Japan

I just found out recently that this Joey is Joey from the phenomenal group, New Kids On The Block. Wow~ Even though I was not rooting for NKOTB (I only knew Step By Step), I knew that they were so well-known and leading the boys group trend in 90s and 2000s. Because of that, I decided to review Joey’s only song that I knew, Stay The Same.

This song was out in 1999. Yes, it is an old song but still relevance to be heard till now. I still can hear this song through radio recently. It is slow pop song, has such a 2000s pop song feels. Instead of having some ‘too romantic’ lyric like many others pop songs in that era, it is giving us some encourage meaning. It tells us to be and learn to love ourselves. Wishing to be someone else is like not accepting us as the way we are. Believe in ourselves then we’ll make it through.

Here is the lyric..

[Chorus]
Don’t you ever wish
You were someone else
You were meant to be
The way you are exactly

Don’t you ever say
You don’t like the way you are
When you learn to love yourself
You’re better off by far

And I hope you always stay the same
‘Cause there’s nothing ’bout you I would change

I think that you could be
Whatever you wanted to be
If you could realize
All the dreams you have inside

Don’t be afraid
If you got something to say
Just open up your heart
And let it show you the way

[Chorus]

Believe in yourself
Reach down inside
The love you find will set you free
Believe in yourself
You will come alive
Have faith in what you do
You’ll make it through

Oh,

[Chorus]

Don’t change

Darfur adalah suatu wilayah di sebelah barat Republik Sudan, yang luasnya kurang lebih sama dengan luas negara Prancis. Dalam bahasa Arab, Darfur berarti Land of the Fur atau rumah bangsa Fur. Darfur berbatasan langsung dengan Libya, Chad, dan Republik Afrika Tengah. Topografi Darfur terdiri dari padang pasir, savana, dan pegunungan. Darfur dibagi menjadi tiga negara bagian di Sudan, yaitu Gharb Darfur (Darfur Barat), Janub Darfur (Darfur Selatan), dan Shamal Darfur (Darfur Utara).

Konflik Darfur merupakan konflik yang terjadi antara kelompok Janjaweed, sebuah militer yang direkrut dari suku-suku Arab lokal, dengan suku-suku non-Arab di wilayah tersebut. Konflik yang terjadi sejak Februari 2003 ini telah mengakibatkan 180.000 – 300.000 korban tewas dan 2,5 juta penduduk terpaksa meninggalkan rumahnya untuk mengungsi. PBB bahkan menyebutnya pemberontakan kelompok bersenjata yang terjadi di Darfur ini sebagai tragedi kemanusiaan terparah di dunia.

Konflik ini bermula ketika pemberontak menyerang target-target pemerintahan Sudan karena merasa wilayah mereka terabaikan. Kelompok pemberontak tersebut yaitu the Sudan Liberation Army (SLA) dan the Justice and Equality Movement (JEM). Konflik dipicu oleh keinginan kabilah-kabilah Arab di Darfur untuk mengusir kabilah yang berasal dari ras Afrika yang ada di sana. Keinginan ini kemudian diikuti dengan pembentukan milisi Janjaweed oleh kabilah Arab.

Berbeda dengan perang sipil yang pernah terjadi di Sudan antara kelompok Islam di Utara dan kelompok Kristen di Selatan, semua pihak yang terlibat dalam konflik Darfur adalah muslim. Isu yang sering disampaikan melalui media adalah bahwa konflik ini berkaitan dengan konflik etnis antara Arab dan Afrika. Menurut Deputi Menlu Sudan, Muhammad Najib El-Khoir, hal ini cukup mengherankan karena penduduk Darfur mayoritas beragama Islam dan tidak bisa dibedakan lagi mana yang Arab dan mana yang Afrika (Kompas, 5 Agustus 2004).

Keanehan yang ada pada konflik Darfur tersebut memperlihatkan bahwa berita-berita yang diinformasikan oleh media hanya berupa propaganda saja. Pemimpin Libya yang baru terpilih menjadi Presiden Uni Afrika, Muammar Gaddafi, mengatakan bahwa kekuatan asing lah yang berada di balik konflik Darfur. Kekuatan asing yang dimaksud adalah Amerika Serikat, Inggris dan terutama Israel.

Darfur merupakan kawasan yang kaya akan sumber minyak, uranium, dan gas. Hal inilah yang menyebabkan Amerika Serikat dan Inggris bersikap sangat keras terhadap Sudan. Seperti diungkapkan Deputi Menlu Sudan, awalnya Amerika Serikat lah yang menemukan sumber minyak di Sudan. Namun kemudian pemerintah Sudan mengalihkan kerjasama di bidang perminyakan dan pertambangan kepada negara-negara Asia seperti Cina dan Malaysia. Jadi konflik yang terjadi di Darfur sebenarnya dipicu karena persaingan antara Amerika Serikat, Eropa, dan Cina untuk memperebutkan minyak Darfur.

Mahkamah Internasional (ICC) berencana untuk menangkap Presiden Omar Al-Bashir atas tuduhan kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Darfur. Rencana ini disinyalir sebagai konspirasi negara-negara Barat yang dimotori oleh Amerika Serikat untuk memecah belah Sudan. Sudan adalah negara yang terluas di benua Afrika dan merupakan kawasan tersubur di negara Arab. Sudan juga berada di posisi strategis lalu lintas perairan Laut Merah. Sudan juga merupakan penguasa sungai Nil kedua setelah Mesir. Jadi terpecahnya Sudan dapat memberikan ancaman keamanan bagi Mesir. Jika melihat potensi-potensi Sudan tersebut, maka tidak salah Amerika Serikat sangat ingin menguasai Sudan.

Kekuatan asing yang dianggap juga berada di balik konflik Darfur adalah Israel. Gaddafi menyatakan secara terang-terangan bahwa Israel berada di balik perang saudara dan krisis kemanusiaan yang terjadi di Darfur. Buktinya adalah bahwa pemberontak Darfur memiliki kantor di Tel Aviv, Israel. Menteri Pertahanan Sudan, Abdul Rahim Muhammad Hussein, mengatakan kepada surat kabar Arab Saudi bahwa 24 organisasi Yahudi menyulut konflik di Darfur. Organisasi-organisasi tersebut memberikan dukungan politik dan materi melalui kontrol mereka atas media massa di Amerika Serikat dan Inggris. Intinya, kelompok Yahudi menggunakan segala upaya untuk memperkeruh konflik. Menteri Dalam Negeri Sudan, Zubair Bashir Taha, mengatakan bahwa pemerintah Israel mendorong orang-orang Sudan untuk mengungsi ke Israel. Oleh karena itu, terdapat pengungsi yang mencari perlindungan ke Israel.

Opini

Konflik yang terjadi di Darfur bisa jadi memang disebabkan karena konflik etnis antara Arab dan Afrika. Namun, kita juga harus memahami bahwa pandangan geopolitik dan geostrategi terhadap kawasan Sudan memperlihatkan bahwa Sudan memang memiliki posisi strategis dan kekayaan alam yang mampu menarik perhatian negara-negara lain untuk terlibat di dalamnya.

Organisasi regional Afrika yaitu Uni Afrika sepertinya akan memainkan peran yang cukup signifikan dalam penyelesaian konflik Darfur. Hal ini terlihat dari pernyataan Muammar Gaddafi sebagai pemimpin Uni Afrika yang sangat mendukung pemerintah Sudan dan mendorong negara-negara Afrika yang lain untuk memahami akar masalah sebenarnya yang menyebabkan terjadinya konflik. Penyelesaian konflik Darfur membutuhkan kebulatan suara dan dukungan dari seluruh negara-negara Afrika untuk menentang adanya kolonialisme baru yang terselubung oleh negara-negara yang berkepentingan.

Referensi

Alex de Waal, D. Phil. Darfur. < http://encarta.msn.com/encyclopedia_701843542/Darfur.html >. Diakses tanggal 26 April 2009.

Gaddafi: Israel di Balik Konflik Darfur. <http://www.eramuslim.com/berita/dunia/gaddafi-israel-dibalik-konflik-darfur.htm&gt;. Diakses tanggal 26 April 2009.

Menteri Pertahanan (Menhan) Sudan mengatakan, 24 organisasi Yahudi telah ikut menyulut konflik di wilayah Darfur. <http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8806:ada-keterlibatan-yahudi-di-belakang-konflik-darfur&catid=67:internasional&Itemid=55&gt;. Diakses tanggal 26 April 2009.

Redaksi. Minyak dan Konspirasi Memecah Sudan di Balik Konflik di Darfur. <http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=A5543_0_12_0_M&gt;. Diakses tanggal 26 April 2009.

Umarulfaruq Abubakar. Sudan: Geliat Konflik Berkepanjangan. <http://www.sinaimesir.com/cetak.php?id=184&gt;. Diakses tanggal 26 April 2009.

Pendahuluan

Secara geografis, definisi Timur Tengah tidak begitu jelas. Tapi para sejarawan sepakat bahwa yang dimaksud dengan Timur Tengah adalah wilayah yang terbentang antara Lembah Nil hingga negeri-negeri Muslim di Asia Tengah, dari Eropa yang paling tenggara hingga Lautan Hindia. Negara-negara Muslim di Asia yang ada di dalamnya sering disebut juga dengan Timur Dekat dan khusus bagian benua Asia biasa disebut juga dengan Asia Barat. Amerika Serikat adalah negara yang mempopulerkan istilah Timur Tengah setelah Perang Dunia II (Yatim, 2008 dalam Syukur, 2008). Ada juga yang mengatakan bahwa Timur Tengah merupakan kawasan yang berada di sekitar Teluk Persia. Namun demikian, belum ada kesepakatan tentang definisi wilayah Timur Tengah.

Negara-negara yang seringkali dianggap sebagai negara Timur Tengah adalah negara Arab dan non-Arab yaitu Mesir, Iran, Irak, Yordania, Lebanon, Palestina, Syria, Israel, Bahrain, Kuwait, Yaman Utara, Yaman Selatan, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab. Negara-negara yang kadang dianggap sebagai negara Timur Tengah adalah Cyprus, Yunani, Libya, Turki, Afghanistan, dan Pakistan (David, 2006; Muttaqien, 2008).

Timur Tengah adalah wilayah yang sangat strategis dalam peta dunia. Kawasan ini terletak di wilayah “intercontinental trade” yang menghubungkan benua Eropa, Asia, dan Afrika. Kawasan ini memiliki akses di semua lalu lintas, yaitu darat, laut, dan udara. Kawasan ini merupakan kawasan yang sulit untuk ditembus karena wilayahnya yang bergunung-gunung yang dijadikan sebagai benteng pertahanan. Kawasan ini juga menyimpan cadangan minyak terbesar dunia yang sangat dibutuhkan oleh negara-negara besar. Negara-negara Timur Tengah adalah pengimpor senjata utama dan penyedot komoditi dari negara-negara besar. Hal ini menyebabkan adanya keterlibatan negara-negara besar dalam penyelesaian konflik di antara negara-negara Timur Tengah terutama konflik Arab-Israel karena negara-negara besar tersebut memiliki kepentingan yang beragam di Timur Tengah (Muttaqien, 2008).

Secara umum, kawasan Timur Tengah adalah kawasan yang senantiasa bergejolak, terdiri dari negara-negara yang saling curiga dan penuh dengan konflik. Salah satunya karena terjadi perebutan sumber mata air. Wilayah Timur Tengah berada di antara 20 – 40 LU yang berdampak kepada keringnya udara dan rendahnya curah hujan. Penduduk lebih banyak berkonsentrasi di wilayah-wilayah yang dekat dengan sungai, sumber air, atau daerah yang curah hujannya tinggi. Penyebab yang lain adalah karena rezim-rezim yang berkuasa di negara-negara Timur Tengah memiliki legitimasi yang lemah dari masyarakatnya sehingga sering terjadi konflik lokal. Di sisi lain, karena latar belakang historis, negara-negara Timur Tengah sering ikut campur terhadap permasalahan domestik negara lain. Akibatnya, stabilitas kawasan menjadi terganggu dan berdampak juga kepada perdamaian dan keamanan internasional (Muttaqien, 2008).

Timur Tengah: Sebuah Regionalisme?

Organisasi regional semakin menjadi aktor penting dalam kancah politik internasional dewasa ini. Hal ini terlihat dari semakin berkembangnya Uni Eropa, NAFTA, dan ASEAN. Lalu adakah organisasi regional di Timur Tengah? Jawabannya adalah ada. Liga Arab terbentuk pada tahun 1945 terdiri dari negara-negara Arab yaitu negara-negara yang menggunakan bahasa Arab. Kemudian ada GCC (The Gulf Cooperation Council) tahun 1981, GOIC (The Gulf Organization for Industrial Consulting) tahun 1976, AMU (The Arab Maghreb Union) tahun 1989, MENA, dan sebagainya.

Andrew Hurrel memberikan lima kategori dalam regionalisme, yaitu regionalisasi, identitas dan kekhawatiran regional, kerjasama antarnegara dalam satu kawasan, integrasi regional state-promoted, dan kohesi regional. Dari sini, penulis akan mencoba menganalisis bagaimana kondisi regionalisme Timur Tengah berdasarkan lima kategori yang diberikan oleh Hurrel di atas.

  • Regionalisasi

Negara-negara Timur Tengah sudah mengadakan kerjasama ekonomi dan perdagangan, bahkan sejak lama. Walaupun sama-sama merupakan negara yang kaya minyak, hubungan ekonomi tidak bias dipisahkan oleh negara-negara tersebut.

  • Identitas dan kekhawatiran regional

Timur Tengah merupakan kawasan yang mayoritas terdiri dari negara Arab (karena menggunakan bahasa Arab). Islam juga sebagai identitas karena mayoritas penduduk Timur Tengah adalah Muslim, walaupun dengan berbagai macam aliran (Sunni, Syiah, dan lain-lain). Komunitas yang memiliki kesamaan sejarah dan budaya ini juga memiliki common enemy yang ada di kawasan mereka sendiri, yaitu Israel.

  • Kerjasama antarnegara dalam satu kawasan

Kerjasama antarnegara di kawasan Timur Tengah diwarnai dengan kerjasama ekonomi, perdagangan, penyelesaian konflik, dan sebagainya. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, negara-negara Timur Tengah memiliki kecenderungan untuk mencampuri politik domestik negara lain.

  • Integrasi regional state-promoted

Kawasan Timur Tengah belum memiliki negara yang mampu menjadi negara utama dalam hubungan antarnegara di kawasan tersebut. Integrasi yang terjadi juga masih memiliki begitu banyak penghambat seperti kecurigaan-kecurigaan di antara negara-negara tersebut.

  • Kohesi regional

Kawasan Timur Tengah belum memiliki kohesi regional. Dengan kata lain, kohesi regional belum bisa terwujud. Hal ini berkaitan dengan kondisi Timur Tengah yang masih penuh dengan sengketa dan konflik baik domestik maupun antarnegara dalam satu kawasan.

Opini

Timur Tengah merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis dalam peta politik global. Negara-negara yang berada di kawasan tersebut adalah negara-negara yang kaya akan minyak, dengan pusat kelahiran tiga agama besar dunia, memiliki posisi strategis yang menghubungkan tiga benua besar, dan sebagai rimland bagi heartland. Karena kekayaan minyaknya, negara-negara Timur Tengah merupakan importir teknologi, senjata, dan barang-barang komoditas lainnya dari negara-negara besar di luar kawasan. Dengan nilai strategis dan potensial yang dimiliki kawasan Timur Tengah ini, wajar jika negara-negara besar yang masing-masing memiliki kepentingan sendiri berusaha untuk melebarkan pengaruhnya di Timur Tengah.

Penulis mencoba membandingkan Timur Tengah dengan ASEAN. Timur Tengah dan ASEAN adalah kawasan yang sama-sama memiliki potensi dan nilai strategis dengan anggota negara yang relatif sama kondisinya. Keduanya juga sama-sama masih berusaha menemukan bentuk kerjasama regional yang bisa diterapkan di kawasan tersebut. Dengan hubungan antarnegara anggota yang relatif penuh konflik dan curiga, wajar jika kerjasama regional di kedua kawasan masih membutuhkan proses yang panjang.

Referensi

David, Ron. (2006) Arab dan Israel untuk Pemula. Yogyakarta: Resist Book.

Hurrel, Andrew. (?) Regionalism in Theoretical Perspective.

Muttaqien, M. (2008) Kuliah MBP. Timur Tengah.

Shah, Anup. (2009) Middle East. Global Issues, 1 Februari 2009. [Diakses 22 Mei 2009] <www.globalissues.org>

NAFTA (North American Free Trade Agreement) merupakan kerjasama perdagangan bebas di Amerika Utara yang bertujuan untuk memudahkan negara anggota dalam bidang ekonomi mulai dari pembebasan tarif dan hambatan perdagangan dan produksi barang tertentu hingga adanya perlakuan adil terhadap penanam modal asing yang akan menanamkan modalnya di masing-masing negara-negara anggota (Krimawati, ?). Anggotanya adalah Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. NAFTA merupakan area perdagangan bebas terbesar kedua setelah Eropa (Vogel, 2009).

Sejarah Pembentukan

Amerika Serikat dan Kanada telah mengadakan kerjasama perdagangan bebas sejak 1988. Kerjasama ekonomi tersebut sebatas kerjasama bilateral yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi perekonomian Kanada yang semakin memburuk karena meningkatnya pengangguran dan banyaknya perusahaan-perusahaan Kanada yang memindahkan investasinya ke Amerika Serikat. Kerjasama ini dianggap sebagai embrio dari NAFTA.

NAFTA didirikan pada tahun 1989 di Washington DC melalui perjanjian perdagangan antara Kanada dan Amerika Serikat yang dihadiri oleh perwakilannya masing-masing. Perjanjian ini menghasilkan kesepakatan untuk mengeliminasi atau mengurangi tarif-tarif di antara kedua negara. Pada Desember 1992, NAFTA ditandatangani oleh presiden dari tiga negara, yaitu Brian Mulroney (Kanada), Carlos Salinas de Gortari (Meksiko), dan George H. W. Bush (Amerika Serikat). Penandatanganan NAFTA harusnya diikuti dengan ratifikasi dari lembaga legislatif ketiga negara. Namun lembaga legislatif Amerika Serikat ternyata mengkhawatirkan masalah lingkungan dan buruh. Oleh karena itu, ditambahkan dua perjanjian yang masing-masing ditujukan untuk isu buruh dan isu lingkungan. NAFTA baru mulai diimplementasikan pada tanggal 1 Januari 1994 (www.fas.usda.gov, 2009).

NAFTA bagi Amerika Serikat

Kanada dan Meksiko adalah pasar ekspor kedua dan ketiga terbesar bagi Amerika Serikat. Terhitung tahun 1992-1998, nilai ekspor sektor pertanian Amerika Serikat meningkat sebesar 26%, sedangkan terhitung tahun 1997-1998, ekspor makanan dan pangan Amerika Serikat ke Meksiko meningkat dari 881 juta Dolar menjadi 5,9 milyar Dolar. Ini merupakan level terbesar selama 5 tahun dalam NAFTA. Meksiko sendiri merupakan target utama ekspor pangan Amerika Serikat, dan Amerika Serikat telah menjadi suplai 75% impor pangan Meksiko. Sedangkan Kanada telah menjadi pasar yang stabil bagi perdagangan pangan Amerika Serikat dengan bertambahnya ekspor pangan sebesar 10% setiap tahun sejak tahun 1990 hingga tahun 1998. Pangan yang dimaksud adalah buah-buahan, sayuran segar, makanan ringan, dan konsumsi makanan lainnya.

NAFTA bagi Kanada dan Meksiko

Kanada dan Meksiko membutuhkan Amerika Serikat sebagai pemberi dana dan bantuan ekonomi kedua negara yang sedang memburuk. Bagi Kanada dan Meksiko, NAFTA adalah arena kompetisi antaranggota. Meksiko terutama, yang paling terlihat sangat ketergantungan terhadap Amerika Serikat dalam sektor ekonomi.

Opini

NAFTA bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk regionalisme yang paling sederhana yaitu berupa free trade area. Hubungan antara negara anggota sebatas pada hubungan perdagangan bebas di mana masing-masing anggota mendapatkan keuntungan. Kepentingan ketiga negara anggota dalam NAFTA tentu saja tidak hanya pada bidang ekonomi saja. Negara-negara tersebut juga memiliki kepentingan politik, seperti Meksiko dan Kanada yang membutuhkan Amerika Serikat untuk menaikkan bargaining position-nya dalam mendapatkan bantuan ekonomi. NAFTA sendiri didirikan dengan maksud untuk mengimbangi kekuatan baru Uni Eropa.

Pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah apakah keberadaan NAFTA saat ini masih memberikan manfaat bagi ketiga negara anggotanya? Bukankah Amerika Serikat sangat terlihat sebagai “tulang punggung” keberlangsungan NAFTA? Dan bukankah Kanada dan Meksiko menjadi sangat tergantung dengan Amerika Serikat? Dan apakah NAFTA akan berkembang menjadi regionalisme dengan tingkatan yang lebih tinggi? Yang jelas, NAFTA masih ada dan hidup hingga sekarang. Walaupun kerugian yang didapatkan tidak sedikit, namun sepertinya keuntungan yang didapatkan oleh ketiga negara cukup membuat NAFTA bertahan hingga saat ini. NAFTA juga memiliki potensi besar untuk mengembangkan bentuk kerjasamanya karena terlihat selama beberapa tahun berdiri, negara-negara NAFTA mengalami perkembangan yang cukup signifikan.

Referensi

Krimawati, Wawat. (?) NAFTA: North America Free Trade Agreement. [Diakses 18 Mei 2009] <http://members.fortunecity.com/oeza1/nafta.doc&gt;

Vogel, David. (2009) North American Free Trade Agreement. [Diakses 18 Mei 2009] <www.encarta.msn.com>

2009. North American Free Trade Agreement (NAFTA). United States Department of Agriculture, Foreign Agricultural Service. [Diakses 8 Juni 2009] <http://www.fas.usda.gov/itp/Policy/nafta/nafta.asp&gt;

Integrasi regional dibangun dari teori yang menjelaskan tentang integrasi perdagangan dan moneter. Integrasi perdagangan mencakup free trade area (FTA), custom union (CU), dan common market (CM). FTA adalah bentuk yang paling sederhana dari suatu integrasi ekonomi di mana negara-negaranya sepakat untuk meliberalisasi perdagangan internal namun tetap memiliki otonomi di level eksternal. CU merupakan bentuk integrasi yang selangkah lebih kompleks di mana tidak hanya tercipta perdagangan bebas di level internal tapi juga terdapat tarif eksternal yang sama. CM bisa disebut sebagai “deep integration” di mana terjadi mobilisasi bebas faktor-faktor produksi baik modal maupun buruh. Integrasi perdagangan regional berakibat pada terjadinya economies of scale, intra-industry trade, economic geography, harmonization of standards.

Integrasi moneter membawa beberapa implikasi yaitu adopsi mata uang yang sama, kesepakatan kebijakan moneter yang sama, dan pembentukan otoritas moneter regional. Integrasi moneter regional lebih beraspek politik daripada ekonomi. Segala sesuatu diputuskan karena pertimbangan cost dan benefit. Teori optimum currency area (OCA) adalah suatu kerangka berpikir yang digunakan untuk menganalisis cost dan benefit itu. Teori OCA mencakup masalah relevansi dan pilihan kebijakan untuk kebijakan moneter dan memberikan beberapa kriteria baik untuk mikroekonomi atau makroekonomi dengan tujuan mengukur optimal tidaknya suatu monetary union (MU). Teori OCA menawarkan elemen-elemen yang dibutuhkan untuk mengevaluasi pilihan kebijakan secara terstruktur yang dihubungkan dengan kerjasama dan integrasi moneter regional.

Teori ekonomi tentang integrasi regional memberikan prediksi bahwa macro-regions akan memiliki peran yang lebih penting dalam pemerintahan global di masa mendatang. Alasannya adalah semakin banyak terjadi pertukaran barang dan jasa, pertukaran modal internasional, dan laju migrasi, maka akan semakin meningkat pula kebutuhan akan kebijakan regional.

Dalam melihat tatanan ekonomi dunia, terdapat dua pandangan yaitu regionalisasi dan globalisasi. Menurut regionalisasi, dominasi politik atas ekonomi terpusat pada tiga region, yaitu Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur. Sedangkan menurut globalisasi, aktivitas ekonomi dilakukan oleh agen-agen ekonomi (transnasional) yang berkompetisi di dalam pasar global. Pada dasarnya, dua pandangan tersebut merupakan tatanan ekonomi politik dunia paska Perang Dunia II yang memiliki karakter hirarkis dan berstruktur statis di bawah hegemoni Amerika Serikat.

Regionalisasi berpandangan bahwa perimbangan kekuatan dalam ekonomi politik dunia telah bergeser dari multilateralisme ke sebuah sistem yang berbasis kompetisi antara blok-blok regional yang didominasi oleh hegemon regional. Globalisasi berpandangan bahwa hegemoni satu atau beberapa negara tidak mampu menjadi dasar bagi tatanan ekonomi dunia. Oleh karena itu, globalisasi lebih menekankan kepada firma dan pasar, bukan negara.

Regionalisme ekonomi adalah suatu bentuk perjanjian perdagangan antara sekelompok negara dalam suatu region. Dapat juga diartikan sebagai rancangan dan implementasi suatu set kebijakan di antara sekelompok negara dalam satu region yang bertujuan untuk penguatan pertukaran barang atau faktor-faktor lainnya antar sesama anggota. Sedangkan regionalisasi ekonomi adalah output dari kebijakan-kebijakan atau dari kekuatan ekonomi natural.

Faktor-faktor yang menyebabkan regionalisme ekonomi muncul sebagai tren baru adalah berakhirnya Perang Dingin, pergeseran perimbangan atas kekuatan ekonomi dunia, pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang, dan meningkatnya kebutuhan akan hambatan nontarif dalam perdagangan.

Referensi

Brigid Gavin dan Philippe De Lombaerde, Economic Theories of Regional Integration

Andrew Wyatt-Walter, Regionalism, Globalization, and World Economic Order

Istilah “region” dan “regionalism” masih belum mempunyai definisi yang baku. Perdebatan masalah definisi tersebut muncul pada akhir tahun 60-an dan awal 70-an. Regionalisme sering diartikan sebagai derajat kepaduan sosial (etnik, bahasa, agama, budaya, sejarah), ekonomi (perdagangan), politik (tipe rezim, ideologi), dan organisasional (institusi regional formal). Seperti yang dikatakan John Ravenhill dalam artikelnya “Regionalism”, Hurrell juga mengatakan bahwa tidak ada regionalisme yang terjadi secara alami. Semua kawasan merupakan sebuah konstruksi sosial sehingga tidak mudah untuk mendefinisikannya. Definisi setiap kawasan bisa berbeda tergantung konteks masalah dan pembentukannya.

Konsep regionalisme bisa dibedah dalam lima kategori, yaitu:

1. Regionalisasi

Regionalisasi adalah pertumbuhan integrasi sosial di dalam suatu kawasan dan proses interaksi sosial dan ekonomi secara tidak langsung. Ada yang menyebutnya sebagai proses ekonomi yang berdampak kepada adanya ketergantungan di antara negara-negara dalam suatu kawasan yang “given”. Pemikir lama mengatakannya sebagai integrasi informal sedangkan pemikir kontemporer mengatakannya sebagai “soft regionalism”. Kata kunci dari regionalisasi adalah migrasi, pasar, jaringan sosial. Ketiga hal tersebut dapat meningkatkan interaksi yang mengikat negara-negara dan membentuk kawasan baru yang lintas batas.

2. Identitas dan kekhawatiran regional

Emmanuel Adler memberikan sebuah istilah “cognitive regions”. Menurutnya, kawasan itu seperti bangsa, merupakan komunitas yang diimajinasikan yang mempunyai wilayah tertentu dan mengabaikan yang lain. Jadi, ada persepsi tentang kepemilikan bersama terhadap sebuah komunitas berdasarkan faktor internal yaitu kesamaan budaya, sejarah, atau tradisi relijius dan faktor eksternal karena menganggap ada ancaman keamanan yang sama atau budaya dari luar kawasan.

3. Kerjasama antarnegara dalam satu kawasan

Aktivitas regionalisme antara lain mencakup negosiasi dan konstruksi kerjasama antarnegara atau antarpemerintahan atau rezim. Regionalisme bisa dijadikan sebagai cara merespon tantangan eksternal, meningkatkan kesejahteraan, menciptakan nilai-nilai bersama, dan menyelesaikan masalah bersama.

4. Integrasi regional yang dipromosikan oleh negara

Peter Smith memberikan beberapa dimensi untuk menggambarkan integrasi regional ekonomi, yaitu scope (isu), depth (harmonisasi kebijakan), institusionalisasi, dan sentralisasi (otoritas efektif). Pada awalnya, integrasi berkonsentrasi pada eliminasi penghambat perdagangan dan pembentukan kemudahan mobilisasi barang, jasa, modal, dan manusia.

5. Kohesi regional

Kohesi regional merupakan kemungkinan yang dapat terjadi apabila keempat kategori sebelumnya bisa terpenuhi. Kohesi memiliki dua arti. Pertama, ketika suatu kawasan memainkan peran penting dalam hubungannya dengan negara atau dengan aktor lain. Kedua, ketika suatu kawasan membentuk basis yang terorganisasi untuk mengambil kebijakan dalam setiap isu.

Analisis teoritik untuk regionalisme yaitu:

1. Teori sistemik atau struktural

Terdapat dua teori sistemik yang signifikan. Pertama, teori neorealis yang menekankan kepada sistem internasional yang anarki dan pentingnya kompetisi kekuatan politik. Kedua, teori interdependensi struktural dan globalisasi yang menekankan kepada sistem internasional yang senantiasa berubah karakternya dan dampaknya terhadap perubahan ekonomi dan teknologi.

2. Teori regionalisme dan interdependensi

Teori ini melihat ada keterkaitan antara regionalisme dan ketergantungan regional sebagai oposisi ketergantungan global. Terdapat tiga teori:

  • Neofungsionalisme

Peningkatan level interdependensi yang tinggi akan menciptakan gerakan yang pelan tapi pasti kepada kerjasama yang mengarah pada integrasi politik. Institusi supranasional dilihat sebagai cara yang paling efektif untuk menyelesaikan masalah bersama. Integrasi tersebut akan menimbulkan efek “spillover”. Pertama, functional spillover yaitu integrasi parsial di satu bidang dan meningkatnya kompleksitas kerjasama akan mendorong terjadinya kerjasama di bidang lain. Kedua, political spillover yaitu keberadaan institusi supranasional akan menciptakan kesadaran untuk memperkuat diri dalam institutional building.

  • Neoliberal institusionalisme

Teori ini adalah teori yang paling masuk akal dan paling berpengaruh untuk menjelaskan kemunculan regionalisme. Analisisnya adalah semakin tinggi tingkat ketergantungan maka akan memicu kebutuhan akan adanya kerjasama internasional. Menurut Keohane, institusi dianggap sebagai solusi yang menjanjikan untuk berbagai macam masalah kolektif. Namun demikian, teori ini dianggap statis karena hanya fokus kepada negara sebagai entitas yang egois yang bisa diajak bekerjasama. Bergabungnya suatu negara menjadi anggota institusi tertentu juga dianggap membawa keuntungan bagi negaranya. Walaupun kepentingan kolektif menjadi yang utama, namun selanjutnya akan tetap memberikan manfaat bagi kepentingan negara anggota.

  • Konstruktivisme

Teori ini fokus kepada identitas dan kekhawatiran regional seperti yang sudah dijelaskan di atas, atau disebut juga dengan regionalisme kognitif.

3. Teori level domestik

Teori ini fokus kepada peranan pembagian atribut atau karakter domestik. Seperti Karl Deutsch, yang ditekankan adalah pentingnya kecocokan dan relevansi nilai terhadap pengambilan keputusan dalam komunitas keamanan di suatu kawasan.

Opini

Pada dasarnya, regionalisme muncul seiring dengan semakin kompleksnya kebutuhan manusia dan negara. Ketika suatu negara membutuhkan keunggulan dan potensi negara lain, maka pada saat itu pula negara tersebut akan melihat kerjasama sebagai solusi yang memiliki proyeksi cerah. Regionalisme hanyalah suatu bentuk kerjasama dalam aspek kesamaan geografis, sejarah, budaya, dan lain sebagainya.

Ada suatu perdebatan, apakah regionalisme itu anti globalisasi atau justru produk dari globalisasi? Regionalisme adalah produk dari globalisasi karena terbukti regionalisme semakin menemukan posisinya di era globalisasi saat ini, di mana perkembangan teknologi dan kompleksitas kebutuhan manusia semakin mendorong terciptanya integrasi. Sedangkan regionalisme adalah anti globalisasi karena mendorong adanya proteksionisme dan nasionalisme kawasan saja sehingga memarjinalkan bagian bumi yang lain. Namun, perlu kita ingat adanya suatu bentuk kekhilafahan sebelum runtuh pada tahun 1924. Bukankah itu juga merupakan regionalisme dalam bentuk lain? Anggotanya tidak semua berada dalam satu kawasan. Kesamaan ideologilah yang menyatukan negara-negara itu. Padahal era tersebut belum diidentifikasi sebagai era globalisasi. Sepertinya perdebatannya masih akan berlanjut.

Referensi

Artikel “Regionalism in Theoretical Perspective” dan “The Regional Dimension in IR Theory” oleh Andrew Hurrell