Regionalisme Timur Tengah

Posted: October 27, 2012 in International Relations
Tags: ,

Pendahuluan

Secara geografis, definisi Timur Tengah tidak begitu jelas. Tapi para sejarawan sepakat bahwa yang dimaksud dengan Timur Tengah adalah wilayah yang terbentang antara Lembah Nil hingga negeri-negeri Muslim di Asia Tengah, dari Eropa yang paling tenggara hingga Lautan Hindia. Negara-negara Muslim di Asia yang ada di dalamnya sering disebut juga dengan Timur Dekat dan khusus bagian benua Asia biasa disebut juga dengan Asia Barat. Amerika Serikat adalah negara yang mempopulerkan istilah Timur Tengah setelah Perang Dunia II (Yatim, 2008 dalam Syukur, 2008). Ada juga yang mengatakan bahwa Timur Tengah merupakan kawasan yang berada di sekitar Teluk Persia. Namun demikian, belum ada kesepakatan tentang definisi wilayah Timur Tengah.

Negara-negara yang seringkali dianggap sebagai negara Timur Tengah adalah negara Arab dan non-Arab yaitu Mesir, Iran, Irak, Yordania, Lebanon, Palestina, Syria, Israel, Bahrain, Kuwait, Yaman Utara, Yaman Selatan, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab. Negara-negara yang kadang dianggap sebagai negara Timur Tengah adalah Cyprus, Yunani, Libya, Turki, Afghanistan, dan Pakistan (David, 2006; Muttaqien, 2008).

Timur Tengah adalah wilayah yang sangat strategis dalam peta dunia. Kawasan ini terletak di wilayah “intercontinental trade” yang menghubungkan benua Eropa, Asia, dan Afrika. Kawasan ini memiliki akses di semua lalu lintas, yaitu darat, laut, dan udara. Kawasan ini merupakan kawasan yang sulit untuk ditembus karena wilayahnya yang bergunung-gunung yang dijadikan sebagai benteng pertahanan. Kawasan ini juga menyimpan cadangan minyak terbesar dunia yang sangat dibutuhkan oleh negara-negara besar. Negara-negara Timur Tengah adalah pengimpor senjata utama dan penyedot komoditi dari negara-negara besar. Hal ini menyebabkan adanya keterlibatan negara-negara besar dalam penyelesaian konflik di antara negara-negara Timur Tengah terutama konflik Arab-Israel karena negara-negara besar tersebut memiliki kepentingan yang beragam di Timur Tengah (Muttaqien, 2008).

Secara umum, kawasan Timur Tengah adalah kawasan yang senantiasa bergejolak, terdiri dari negara-negara yang saling curiga dan penuh dengan konflik. Salah satunya karena terjadi perebutan sumber mata air. Wilayah Timur Tengah berada di antara 20 – 40 LU yang berdampak kepada keringnya udara dan rendahnya curah hujan. Penduduk lebih banyak berkonsentrasi di wilayah-wilayah yang dekat dengan sungai, sumber air, atau daerah yang curah hujannya tinggi. Penyebab yang lain adalah karena rezim-rezim yang berkuasa di negara-negara Timur Tengah memiliki legitimasi yang lemah dari masyarakatnya sehingga sering terjadi konflik lokal. Di sisi lain, karena latar belakang historis, negara-negara Timur Tengah sering ikut campur terhadap permasalahan domestik negara lain. Akibatnya, stabilitas kawasan menjadi terganggu dan berdampak juga kepada perdamaian dan keamanan internasional (Muttaqien, 2008).

Timur Tengah: Sebuah Regionalisme?

Organisasi regional semakin menjadi aktor penting dalam kancah politik internasional dewasa ini. Hal ini terlihat dari semakin berkembangnya Uni Eropa, NAFTA, dan ASEAN. Lalu adakah organisasi regional di Timur Tengah? Jawabannya adalah ada. Liga Arab terbentuk pada tahun 1945 terdiri dari negara-negara Arab yaitu negara-negara yang menggunakan bahasa Arab. Kemudian ada GCC (The Gulf Cooperation Council) tahun 1981, GOIC (The Gulf Organization for Industrial Consulting) tahun 1976, AMU (The Arab Maghreb Union) tahun 1989, MENA, dan sebagainya.

Andrew Hurrel memberikan lima kategori dalam regionalisme, yaitu regionalisasi, identitas dan kekhawatiran regional, kerjasama antarnegara dalam satu kawasan, integrasi regional state-promoted, dan kohesi regional. Dari sini, penulis akan mencoba menganalisis bagaimana kondisi regionalisme Timur Tengah berdasarkan lima kategori yang diberikan oleh Hurrel di atas.

  • Regionalisasi

Negara-negara Timur Tengah sudah mengadakan kerjasama ekonomi dan perdagangan, bahkan sejak lama. Walaupun sama-sama merupakan negara yang kaya minyak, hubungan ekonomi tidak bias dipisahkan oleh negara-negara tersebut.

  • Identitas dan kekhawatiran regional

Timur Tengah merupakan kawasan yang mayoritas terdiri dari negara Arab (karena menggunakan bahasa Arab). Islam juga sebagai identitas karena mayoritas penduduk Timur Tengah adalah Muslim, walaupun dengan berbagai macam aliran (Sunni, Syiah, dan lain-lain). Komunitas yang memiliki kesamaan sejarah dan budaya ini juga memiliki common enemy yang ada di kawasan mereka sendiri, yaitu Israel.

  • Kerjasama antarnegara dalam satu kawasan

Kerjasama antarnegara di kawasan Timur Tengah diwarnai dengan kerjasama ekonomi, perdagangan, penyelesaian konflik, dan sebagainya. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, negara-negara Timur Tengah memiliki kecenderungan untuk mencampuri politik domestik negara lain.

  • Integrasi regional state-promoted

Kawasan Timur Tengah belum memiliki negara yang mampu menjadi negara utama dalam hubungan antarnegara di kawasan tersebut. Integrasi yang terjadi juga masih memiliki begitu banyak penghambat seperti kecurigaan-kecurigaan di antara negara-negara tersebut.

  • Kohesi regional

Kawasan Timur Tengah belum memiliki kohesi regional. Dengan kata lain, kohesi regional belum bisa terwujud. Hal ini berkaitan dengan kondisi Timur Tengah yang masih penuh dengan sengketa dan konflik baik domestik maupun antarnegara dalam satu kawasan.

Opini

Timur Tengah merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis dalam peta politik global. Negara-negara yang berada di kawasan tersebut adalah negara-negara yang kaya akan minyak, dengan pusat kelahiran tiga agama besar dunia, memiliki posisi strategis yang menghubungkan tiga benua besar, dan sebagai rimland bagi heartland. Karena kekayaan minyaknya, negara-negara Timur Tengah merupakan importir teknologi, senjata, dan barang-barang komoditas lainnya dari negara-negara besar di luar kawasan. Dengan nilai strategis dan potensial yang dimiliki kawasan Timur Tengah ini, wajar jika negara-negara besar yang masing-masing memiliki kepentingan sendiri berusaha untuk melebarkan pengaruhnya di Timur Tengah.

Penulis mencoba membandingkan Timur Tengah dengan ASEAN. Timur Tengah dan ASEAN adalah kawasan yang sama-sama memiliki potensi dan nilai strategis dengan anggota negara yang relatif sama kondisinya. Keduanya juga sama-sama masih berusaha menemukan bentuk kerjasama regional yang bisa diterapkan di kawasan tersebut. Dengan hubungan antarnegara anggota yang relatif penuh konflik dan curiga, wajar jika kerjasama regional di kedua kawasan masih membutuhkan proses yang panjang.

Referensi

David, Ron. (2006) Arab dan Israel untuk Pemula. Yogyakarta: Resist Book.

Hurrel, Andrew. (?) Regionalism in Theoretical Perspective.

Muttaqien, M. (2008) Kuliah MBP. Timur Tengah.

Shah, Anup. (2009) Middle East. Global Issues, 1 Februari 2009. [Diakses 22 Mei 2009] <www.globalissues.org>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s