Archive for the ‘Soft Political Affairs’ Category

Permasalahan tentang populasi dan migrasi global sepertinya menjadi isu yang paling penting mengalahkan masalah-masalah yang lainnya. Mengapa? Karena semua aspek dalam globalisasi ternyata berkaitan dengan populasi, misalnya kelaparan, ketidakmerataan, konflik etnik, degradasi lingkungan, keamanan global, pengembangan ekonomi, perdagangan, kemiskinan, hak asasi manusia, dan lain sebagainya (Payne, 2009). Pertumbuhan populasi yang tinggi akan berakibat kepada pertumbuhan ekonomi hingga terjadinya migrasi global. Tulisan ini akan memaparkan bagaimana permasalahan populasi dunia yang terlalu tinggi, dampaknya, dan tentang migrasi global.

Populasi Global

Populasi manusia yang hidup di dunia telah mencapai angka 6,1 milyar di pertengahan tahun 2000. Angka ini terus bertambah setiap tahunnya sebanyak 77 juta atau mengalami pertumbuhan sebanyak 1,2 % tiap tahun. Enam negara yang paling berkontribusi terhadap pertumbuhan angka penduduk dunia tersebut adalah India, Cina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Indonesia. Diperkirakan dalam tahun 2050, populasi dunia akan mencapai 7,9 hingga 10,9 milyar manusia (UN Population Division, 2001 dalam Shah, 2001).

Apakah dengan jumlah di atas bisa dibilang dunia sudah mengalami overpopulation? Shah (2001) memberikan ukuran bagaimana populasi yang besar bisa menjadi overpopulation. Beberapa di antaranya adalah konsumsi yang eksploitatif sehingga menimbulkan kemiskinan karena ketidakberlanjutan lingkungan dalam menyediakan sumber kebutuhan manusia, ketidakmampuan ekosistem untuk menopang kehidupan populasi yang hidup di suatu wilayah. Overpopulation berarti bahwa populasi yang tinggal di suatu wilayah terlalu banyak di mana hal itu tidak didukung oleh adanya sumber daya sebagai kebutuhan hidup manusia (Payne, 2009). Hal ini berarti bahwa permasalahan populasi memang selalu terkait dalam konteks konsumsi.

Dalam tulisannya yang terkenal the Principle of Population tahun 1978, Thomas Malthus mengatakan bahwa populasi berkembang menurut deret geometri, sedangkan sumber daya alam terutama suplai makanan berkembang menurut deret aritmatika. Akibatnya, dunia akan mengalami pertumbuhan populasi yang tinggi namun kelaparan dan miskin (Shah, 2001; Payne, 2009). Sekali lagi menunjukkan bahwa masalah populasi memang terkait dengan konsumsi.

Masalah populasi seringkali dikaitkan dengan negara berkembang karena mayoritas negara yang mempunyai populasi besar dan angka pertumbuhan tinggi adalah negara berkembang. Kawasan yang menyumbang peningkatan populasi global adalah Afrika, Asia, Timur Tengah, Amerika Latin (Payne, 2009).

Beberapa penyebab adanya overpopulation adalah kemiskinan, tingkat fertilitas tinggi, tingkat mortalitas rendah, tingkat pendidikan terutama bagi wanita, migrasi, dan sebagainya (Shah, 2001; Payne, 2009). Eropa misalnya, merupakan kawasan dengan tingkat fertilitas yang rendah dan tingkat pendidikan wanita yang tinggi. Kebanyakan wanita dengan tingkat pendidikan tinggi akan lebih memilih untuk menunda pernikahan dan memiliki anak. Hal ini tentu berkebalikan dengan apa yang terjadi di kawasan Afrika dan Asia.

Overpopulation menjadi masalah utama dalam era globalisasi ini karena memberikan dampak yang signifikan bagi dunia. Pertama, kelaparan, berdasarkan teori yang dikemukakan Malthus, populasi dunia akan mengalami kekurangan makanan karena pertumbuhan populasi dunia tidak sebanding dengan persediaan sumber daya. Kedua, penurunan ekonomi, di mana negara yang memiliki populasi besar kebanyakan adalah negara berkembang. Negara tersebut tentu akan semakin sulit dalam memenuhi perekonomian warga negaranya yang semakin banyak. Ketiga, kemiskinan global, merupakan akibat yang berkelanjutan dari dampak pertama dan kedua. Keempat, degradasi lingkungan yang terjadi karena eksploitasi besar-besaran dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup manusia yang semakin bertambah. Kelima, adanya ancaman perang karena berebut sumber daya alam. Sejarah sepertinya akan terulang di mana penyebab perang internasional ke depan adalah karena sumber daya alam (Shah, 2002).

Dampak terakhir yang juga penting adalah persepsi ancaman keamanan terhadap suatu negara. Negara yang memiliki populasi besar bisa menjadi ancaman bagi negara tetangganya. Misalnya kasus Israel-Palestina. Angka kelahiran rakyat Palestina mencapai 40 untuk setiap 1000 orang sedangkan Israel hanya 18 untuk setiap 1000 orang. Diperkirakan, jumlah populasi Palestina akan melebihi jumlah populasi Israel. Seperti dikatakan juru bicara Hamas ketika melakukan kunjungan ke Indonesia terkait serangan Israel ke Gaza pada Desember silam, walaupun ada 1000 korban tewas dari rakyat Palestina, tapi ada 3000 bayi yang lahir dalam jangka waktu yang sama (TV One, 2008).

Masalah ancaman ini juga ditunjukkan Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negeri-nya, Henry Kissinger, bahwa negara miskin yang memiliki tingkat pertumbuhan penduduk tinggi dapat menjadi ancaman bagi Amerika Serikat karena negara yang besar dapat memiliki kekuatan politik yang lebih besar, dapat menghalangi investor ke negara yang bersangkutan, dan dapat menjadi tantangan bagi struktur kekuatan global (Shah, 2001).

Migrasi Global

Migrasi memiliki dua sisi jika dihubungkan dengan populasi dunia. Pertama, migrasi dapat menjadi penyebab pertumbuhan populasi yang tinggi dan overpopulation. Pertumbuhan populasi suatu negara atau kawasan tidak selalu karena penyebab alami yaitu karena kelahiran, tapi bisa juga disebabkan karena perpindahan penduduk dari negara atau kawasan lain. Misalnya pertumbuhan penduduk Yahudi di wilayah Palestina terjadi karena eksodus orang-orang Yahudi dari seluruh dunia yang akhirnya berakibat pada pendirian negara Israel. Kedua, migrasi dapat menjadi dampak dari adanya overpopulation. Jika suatu negara atau kawasan mengalami overpopulation, maka wajar jika masyarakat ingin pindah ke negara atau kawasan dengan penduduk yang lebih sedikit. Hal ini tentu saja didorong oleh berbagai macam faktor antara lain perbaikan ekonomi, perbaikan tingkat kehidupan, terpaksa (bagi pencari suaka) dan sebagainya (Payne, 2009).

Kesimpulan

Dalam era globalisasi yang semakin berkembang, di mana mobilitas segala sesuatu terjadi dengan begitu mudah dengan kemudahan teknologi komunikasi dan transportasi, masalah migrasi seperti tidak bisa dihindari lagi. Terutama ketika negara-negara di dunia mengalami ketidakmerataan kemakmuran, masyarakat tentu memiliki hak untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak dengan melakukan migrasi ke negara atau kawasan yang dianggap makmur.

Masalah populasi juga menjadi semakin kompleks karena suatu saat sumber daya alam yang ada di bumi ini pasti akan habis dan rusak apabila manusia selalu mengekspolitasi dan tidak bisa menjaganya. Bumi ini ada memang untuk dimanfaatkan manusia, tapi bumi ini juga butuh untuk tetap dirawat. Negara-negara di dunia sepertinya memang harus menerapkan sustainable development dimana kebutuhan warga negaranya akan tetap terpenuhi dan lingkungan akan tetap terjaga dan tersedia hingga waktu-waktu mendatang.

Daftar Pustaka

Payne, Richard J. (2009) Chapter 10: Population and Migration. Global Issues: Politics, Economics, and Cultures. Pearson Education, Inc.

Shah, Anup. (2001) Populations: A Numbers Game. Global Issues, 2 September 2001. [Diakses 22 Mei 2009] <http://www.globalissues.org/article/199/population-numbers&gt;

Shah, Anup. (2002) Human Population. Global Issues, 13 Juni 2002. [Diakses 22 Mei 2009] <http://www.globalissues.org/issue/198/human-population&gt;

Pengertian, Macam, dan Jenis

Setiap komunitas memiliki budaya, nilai, prinsip, dan moral yang berbeda-beda, namun terdapat perasaan yang sama bagaimana harus memperlakukan sesama manusia yang lain. Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Pelaksanaan hak asasi manusia ini tentu tanpa membeda-bedakan status, golongan, keturunan, jabatan, dan sebagainya.

Secara umum, terdapat kesepakatan global bahwa manusia memiliki tiga jenis hak asasi. Pertama, hak sipil yang mencakup kebebasan personal seperti kebebasan berbicara, beragama, dan berpendapat, kebebasan dalam kepemilikan barang, hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum. Kedua, hak politik yang mencakup hak untuk memilih, menyuarakan opini politik, dan untuk berpartisipasi dalam proses pemilu. Ketiga, hak sosial yang mencakup hak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan, hak untuk mendapatkan fasilitas kesehatan dan pendidikan.

Sejarah dan Perkembangan

Sejarah hak asasi manusia berawal dari Magna Charta di Inggris pada tahun 1215. Magna Charta merupakan cikal bakal kebebasan warga negara Inggris yang berupa kompromi pembagian kekuasaan antara Raja John dan bangsawannya (Davidson, 1994). Langkah penting selanjutnya adalah keputusan Raja Charles I Inggris dalam “Petition of Rights” pada tahun 1628 sebagai garansi terhadap hak habeas corpus, yaitu hak seseorang untuk dibawa sebelum pengadilan untuk menentukan apakah dia bisa dibebaskan.

Teori tentang hak-hak alami manusia muncul seiring dengan terjadinya revolusi di berbagai negara dalam waktu yang berbeda, yaitu Revolusi Inggris (1688) yang memunculkan “Bill of Rights”, Revolusi Amerika (1776) dengan “Rights of Man” sebagai awal deklarasi kemerdekaan Amerika, dan Revolusi Prancis (1789) dengan Deklarasi Hak Manusia dan Warganegara. Revolusi-revolusi tersebut menekankan bahwa kebebasan individu adalah natural dan pemerintah tidak bisa membatasinya.

Hak asasi manusia mengalami perkembangan dalam bidang hukum internasional berawal ketika abad ke-18 dan 19 di Eropa, terutama dari Traktat Perdamaian Paris (1814) antara Inggris dan Prancis. Kemudian pembentukan International Committee of the Red Cross atau ICRC (1863) diikuti dengan Konvensi Genewa I (1864) untuk melindungi tawanan perang, mengatur cara-cara perang dan perlindungan terhadap masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam perang (noncombatan). Pada abad ke-20, melalui Traktat Versailles (1919) dibentuklah International Labor Organization atau ILO yang fokus kepada upaya keadilan sosial dan kepedulian atas standar perlakuan terhadap kaum buruh. Lebih lanjut, Liga Bangsa-Bangsa menggencarkan upaya untuk menghapuskan perbudakan melalui Konvensi untuk Melenyapkan Perbudakan dan Perdagangan Budak (1926). Globalisasi isu hak asasi manusia ditandai dengan adanya Universal Declaration on Human Rights (UDHR) pada tahun 1948, kemudian International Covenant on Civil and Political Rights (hak-hak sipil dan politik) dan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (hak-hak ekonomi, sosial dan budaya) pada tahun 1966, serta beberapa konvensi seperti CEDAW, CAT, CRC, CERD, dan CMW.

Hak Asasi Manusia dan Globalisasi

Hak asasi manusia adalah komponen yang integral dari kekuatan politik, ekonomi, dan budaya dalam globalisasi. Perlindungan hak asasi manusia tidak lagi dipandang sebagai isu nasional, tapi juga lingkup global. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap ekspansi dan komitmen dalam agenda-agenda global hak asasi manusia yaitu:

  • Pembentukan institusi global yang peduli terhadap perlindungan hak asasi manusia
  • Semakin diterimanya hak interdependen dan indivisibility, di mana pelanggaran hak asasi dalam suatu negara akan berimplikasi terhadap orang di negara lain
  • Penekanan terhadap penegakan demokrasi yang dianggap penting untuk mewujudkan perdamaian internasional
  • Pandangan bahwa kepedulian terhadap hak asasi manusia difasilitasi oleh perkembangan ekonomi yang berbasis pasar
  • Efektivitas aktor nonnegara

Konsep hak asasi manusia secara signifikan semakin dikuatkan dengan kemunculan NGO multilateral yang peduli terhadap penegakan hak asasi manusia. Contohnya adalah Amnesty International, Human Rights Watch, dan institusi internasional yang berbasis pada hak asasi manusia seperti International Criminal Court dan United States Commission on Human Right.

Peran institusi dan NGO dalam penegakan hak asasi manusia tidak dapat dipungkiri justru lebih signifikan dibandingkan peran negara, misalnya Human Rights Watch (HRW). HRW adalah organisasi hak asasi manusia nonpemerintahan yang nonprofit. HRW memiliki staf sebanyak lebih dari 275 di seluruh dunia yang mereka sebut sebagai defender yang memiliki keahlian di bidang masing-masing seperti pengacara, jurnalis, akademisi dari berbagai studi dan kebangsaan. HRW, yang didirikan pada tahun 1978, terkenal dengan penemuan fakta yang akurat, laporan yang nonparsial, penggunaan efektif terhadap media, dan memiliki target advokasi. Setiap tahunnya, HRW mempublikasikan lebih dari 100 laporan tentang kondisi hak asasi manusia di berbagai negara. HRW mengadakan pertemuan dengan pemerintah negara yang bersangkutan, PBB, kelompok regional seperti Uni Afrika atau Uni Eropa, institusi finansial, dan perusahaan untuk menekan agar terjadi perubahan kebijakan yang membantu penegakan hak asasi manusia dan keadilan di seluruh dunia.

Referensi

Chapter 3. Human Rights.

Pengertian, Macam dan Jenis Hak Asasi Manusia (HAM yang berlaku umum global). <http://organisasi.org/pengertian_macam_dan_jenis_hak_asasi_manusia_ham_yang_berlaku_umum_global_pelajaran_ilmu_ppkn_pmp_indonesia&gt; diakses pada tanggal 3 Mei 2009.

Wiratraman, R. Herlambang Perdana. Sejarah, Konteks dan Perkembangan Konsep Hak-hak Asasi Manusia (Bagian I). <http://herlambangperdana.files.wordpress.com/2008/06/herlambang-sejarah-dan-perkembangan-ham.pdf&gt; diakses pada tanggal 3 Mei 2009.

http://www.hrw.org. Diakses pada tanggal 3 Mei 2009.

Penyakit yang menginfeksi masyarakat global merupakan pembunuh manusia yang paling banyak, lebih banyak membunuh daripada konflik (Shah, 2008). Lebih dari satu perempat kematian di dunia disebabkan karena terinfeksi penyakit (Payne, 2009). Penyakit menular yang dimaksud antara lain HIV/AIDS, malaria, influenza, flu burung, tuberculosis (TBC), demam, campak, SARS, dan sebagainya.

Penyakit menular telah menjadi permasalahan global seiring dengan berkembangnya globalisasi sejak tahun 1980-an. Pada saat itu, penyakit menular hanya ada di negara-negara miskin saja. Namun dengan semakin berkembangnya globalisasi, penyakit tersebut mulai menular ke negara-negara yang lain. Pada tahun 1990-an mulai dikenal istilah globalisasi penyakit menular karena masalah kesehatan ini telah menjadi agenda global. Hal ini ditandai dengan adanya dua hal yaitu berkembangnya antibiotik yang sama dan munculnya dampak yang luar biasa dari epidemik baru. Penyakit menular berkaitan dengan isu global dan tidak bisa dipisahkan dari komponen globalisasi secara politik, ekonomi, dan budaya (Payne, 2009).

Banyak hal yang bisa turut berkontribusi dalam perkembangan penyakit, seperti perjalanan dan komunikasi global, perdagangan, faktor lingkungan, konflik etnik dan perang, pengungsi dan migrasi, kemiskinan, praktek kesehatan modern, dan perubahan pola-pola sosial dan tingkah laku, dan sebagainya. Konflik misalnya, dapat menyebabkan rusaknya fasilitas publik dan menyebabkan pengungsi yang begitu banyak dengan kondisi sanitasi yang buruk. Hal ini tentu dapat mendorong tersebarnya penularan penyakit. Lebih lanjut, kemiskinan membuat masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya secara baik, akhirnya kelaparan, dan kemudian mudah terserang penyakit. Degradasi lingkungan dan penebangan hutan kemudian dihubungkan dengan pemanasan global dan banjir tentu juga turut menyebabkan berkembangnya penyakit yang menjangkiti masyarakat global. Pemanasan global juga menyebabkan naiknya suhu udara ketika musim dingin yang justru semakin membuat kuman-kuman penyakit berkembang biak dengan pesat. Semakin banyaknya penduduk dunia yang akhirnya mendorong urbanisasi yang kemudian juga turut membantu penyebaran penyakit karena semakin dekatnya interaksi antarmanusia di berbagai belahan dunia (Payne, 2009).

Sebelum tahun 1990-an, isu utama adalah tentang keamanan nasional, yang hanya menekankan kepada kekuatan militer dan perang untuk menghadapi ancaman dan masalah yang muncul dalam dimensi global. Namun sejak 1990-an yaitu sejak berakhirnya Perang Dingin dan semakin berkembangnya globalisasi, isu yang mulai berkembang adalah tentang keamanan global, yang menekankan keamanan yang sama dan komprehensif untuk semua masyarakat global, dan human security, yang fokus terhadap individu sebagai obyek utama dalam keamanan. Perkembangan tersebut tentu sangat berhubungan dengan kondisi masyarakat dunia yang semakin mengglobal.

Globalisasi penyakit menular akan sangat berpengaruh terhadap human security. Pertama, penyakit menyebabkan lebih banyak korban daripada perang. Kedua, kasus-kasus tentang penyakit menular akan mengurangi kepercayaan publik terhadap negara yang kemudian akan berpengaruh terhadap legitimasi negara yang bersangkutan. Ketiga, penyakit melemahkan dasar ekonomi dari human security. Keempat, penyakit akan berpengaruh terhadap tatanan sosial dan kestabilan. Kelima, penyebaran penyakit menular akan menyebabkan ketidakstabilan regional. Keenam, penyakit dapat disalahgunakan untuk senjata biologis dalam perang maupun terorisme (Payne, 2009).

Mikroba seperti bakteri, virus, parasit, jamur adalah beberapa agen penularan penyakit yang merupakan komponen integral dari lingkungan alam dan manusia. Faktor yang menyebabkan penyakit menular menginfeksi manusia adalah kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan yang menbuat penyakit menular dapat menjangkiti tubuh manusia dan berbagai cara transmisi menuju populasi baru. Ada tiga transisi. Pertama, ketika terjadi Revolusi Agrikultural, di mana masyarakat memikirkan masalah sanitasi, melakukan interaksi tertutup, dan memiliki hewan-hewan domestik. Hewan-hewan inilah yang membawa bakteri, virus, dan segala macamnya yang menyebabkan berkembangnya penularan penyakit seperti TBC, antraks. Hal ini juga didukung dengan adanya perdagangan antarkomunitas dan perjalanan jarak jauh dari masyarakatnya. Kedua, ketika terjadi Revolusi Industri, di mana telah ada berbagai macam penemuan yang berkontribusi dalam penurunan angka penularan penyakit. Namun, populasi yang semakin padat, degradasi lingkungan, dan kondisi sanitasi yang buruk mendorong berkembangnya penyakit seperti kolera, smallpox, dan TBC. Ketiga, era sekarang ini, di mana selama tiga dekade terakhir banyak bermunculan penyakit-penyakit baru dan bermunculan kembali penyakit-penyakit yang dianggap sudah tidak ada.

Jika menghubungkan antara kemiskinan dan penyakit menular, akan kita dapati suatu lingkaran yang tidak ada hentinya. Seseorang yang miskin akan mudah mengalami malnutrisi atau kekurangan gizi, yang kemudian akan berakibat mudah terkena penyakit. Karena miskin, tentu saja akses orang tersebut kepada pelayanan kesehatan sangatlah kurang, yang kemudian menyebabkan orang tersebut tidak sembuh namun justru berpotensi menularkan penyakitnya. Sekitar 1 milyar orang kekurangan akses terhadap pelayanan kesehatan dan sekitar 11 juta anak-anak balita meninggal tiap tahunnya karena kekurangan gizi dan terkena penyakit menular (Shah, 2008).

Pada tahun 2002, hampir 11 juta orang meninggal karena penyakit menular. Ada 8,8 juta kasus baru TBC dan 1,75 juta orang meninggal karena TBC tiap tahunnya. Sebanyak 1,6 juta orang meninggal karena penyakit paru-paru. Dan penyakit malaria telah menyebabkan 300 juta penderita akut dan kurang lebih 1 juta orang meninggal tiap tahunnya. Terakhir, angka yang luar biasa untuk jumlah penderita HIV/AIDS pada tahun 2007 sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut (diambil dari http://www.who.int):

Shah (2008) mengatakan bahwa kematian akibat penyakit jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan kematian karena perang. Ketika kemiskinan masih menjadi masalah global, maka wajar jika masalah penyakit menular juga menjadi masalah yang berkepanjangan. Masalah ini sekarang menjadi agenda bersama masyarakat global yang harus segera dicari solusinya. Beberapa bukti bahwa ada usaha untuk mencegah dan menyelesaikan kasus penyakit menular adalah dengan diadakannya International Sanitation Conference pada tahun 1851 di Eropa, dibentuknya International Health Regulations oleh WHO, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, UNAIDS, dan sebagainya.

Referensi

Payne, Richard J. 2009. Global Issues: Politics, Economics, and Culture. Pearson Education, Inc.

Shah, Anup. 2008. Health Issues. Diambil dari <http://www.globalissues.org/issue/587/health-issues&gt;. Diakses pada tanggal 8 Mei 2009.

Shah, Anup. 2008. Disease: Ignored Global Killers. Diambil dari <http://www.globalissues.org/article/218/diseases-ignored-global-killers&gt;. Diakses pada tanggal 8 Mei 2008.

http://www.who.int

Kejahatan yang terjadi secara mengglobal tidak dapat dipisahkan dari adanya kemajuan pesat di bidang teknologi, informasi, komunikasi, dan transportasi sebagai bagian integral dari fenomena globalisasi. Selain itu, sesuatu yang membuat kejahatan global semakin tumbuh adalah kondisi (seakan-akan) hilangnya batas negara (borderless) karena interaksi antarnegara yang satu dengan yang lainnya semakin kompleks dan mencakup segala bidang. Hal ini mengakibatkan munculnya ketidakpastian berbagai aktivitas yang dilakukan oleh negara karena antara interaksi legal dan aktivitas kejahatan akan menjadi sulit untuk dibedakan (Payne, 2009).

Kejahatan global atau kejahatan transnasional pada awalnya dicetuskan oleh United Nations Crime Prevention and Criminal Justice Branch tahun 1976. Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi fenomena kriminal yang melintasi batas negara, melanggar hukum di beberapa negara dan memiliki efek pada negara lainnya. Kemudian, dibuat konsep baku mengenai kejahatan global yaitu pelanggaran di mana eksekusinya, pencegahan dan efek langsung maupun tidak langsungnya mempengaruhi lebih dari satu negara. Dengan kata lain, suatu kejahatan dikatakan sebagai kejahatan global dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, pelakunya. Dengan adanya berbagai kemudahan karena globalisasi, para pelaku kejahatan akan mendapatkan peluang untuk membentuk jaringan bahkan hingga melewati batas negara. Kedua, dampaknya. Dampak yang ditimbulkan dari kejahatan global akan dirasakan oleh satu atau lebih pihak yang berada di negara lain atau banyak negara.

Beberapa karakteristik kejahatan global sebagaimana yang disebutkan oleh PBB dalam United Nations Convention Against Transnational Organized Crime pada tahun 2000 adalah kejahatan tersebut dilakukan di lebi dari satu negara, dilakukan di satu negara tapi persiapan, perencanaan, pengarahan, dan pengontrolan berada di negara lain, dilakukan di satu negara tapi melibatkan organisasi kriminal yang melakukan tindak kejahatan di lebih dari satu negara, dilakukan di satu negara tapi memiliki efek pada negara lain, dan sebagainya. Kejahatan yang termasuk kejahatan global adalah perdagangan obat-obatan illegal, obat bius, narkoba, penyebaran imigran ilegal, perbudakan, penjualan manusia, kelompok kejahatan dan penculikan, pencucian uang, perdagangan ilegal hewan dan tumbuhan yang hampir punah, perdagangan ilegal organ manusia, pembajakan dan cybercrime, pencurian barang-barang seni dan antik, terorisme, korupsi, dan sebagainya (Payne, 2009).

Kejahatan global dapat menimbulkan ancaman bagi politik dan ekonomi negara-negara sebagai entitas individu maupun secara global. Kejahatan global dapat menciptakan ancaman bagi pasar keuangan internasional di mana perekonomian dunia menjadi interdependen. Misalnya kejahatan berupa pencucian uang dalam jumlah yang besar akan memberikan dampak terhadap hutang negara yang menjadi target (Stephens, 1996). Kejahatan global juga akan menjadi ancaman bagi keamanan nasional, regional, maupun internasional. Misalnya masalah perdagangan narkoba, terorisme, imigran ilegal, perdagangan senjata, pembajakan. Semua hal tersebut akan berdampak kepada keamanan nasional apabila suatu negara dijadikan sebagai rumah bagi berkembangnya kejahatan global (Sullivan, 1996).

Dalam menyikapi penyebaran yang tidak terbendung dari jaringan kejahatan global ini, negara-negara di dunia, baik secara nasional, regional, maupun internasional, telah menunjukkan upaya untuk mencegah dan mengurangi tingkat kejahatan yang menyebabkan kerugian banyak negara. Secara nasional, misalnya Indonesia yang dalam KUHP-nya terdapat pasal yang mengatur tentang kejahatan genosida dan pembajakan di laut lepas. Secara regional, misalnya Uni Eropa yang mengadakan konvensi untuk membahas tentang cybercrime pada tahun 2003. Secara internasional, misalnya PBB yang mengadakan the International Conference on Drug Abuse and Illicit Traffic pada tahun 1987, UN International Drug Control Program (UNDCP) pada tahun 1990, UN Protocol Against the Trafficking in Women and Children yang dihasilkan pada UN Convention Against Transnational Organized Crime pada tahun 2000 (Payne, 2009).

Ternyata tidak hanya negara yang memberikan perhatian kepada isu kejahatan global ini. Organisasi baik pemerintahan maupun nonpemerintahan juga memiliki peran dalam usaha untuk memerangi kejahatan global. Misalnya beberapa NGO yang terlibat dalam perlindungan spesies yang hampir punah seperti World Conservation Union, World Wide Fund for Nature, Fauna and Flora International, Trade Records Analysis of Flora and Fauna in Commerce, dan the World Conservation Monitoring Center. Organisasi lainnya adalah Interpol (the International Criminal Police Organization) yang bertugas mengumpulkan dan menganalisis data dari negara anggota untuk laporan intelegen strategis dan taktis, mendukung investigasi kejahatan global, mengatur pertemuan operasional negara-negara, dan mengatur pertemuan baik regional maupun global yang berkenaan dengan aktivitas kejahatan (Payne, 2009).

Berbagai tindakan baik yang dilakukan oleh negara dalam tingkat nasional, regional, maupun internasional, serta aktor bukan negara seperti yang sudah dipaparkan di atas, merupakan usaha masyarakat internasional untuk mencegah, mengurangi, bahkan memberantas kejahatan global karena menimbulkan kerugian yang tidak sedikit kepada dunia. Tindakan-tindakan tersebut dirasa belum efektif karena memang tidak mudah memberantas kejahatan global yang pelakunya tidak diketahui asal usulnya dan sudah menjaring dalam hubungan yang rumit. Namun, tindakan-tindakan tersebut sangat pantas untuk mendapatkan apresiasi dan dukungan dari semua masyarakat global sebagai langkah awal untuk berkontribusi.

Daftar Pustaka

Payne, Richard J. 2009. Global Issues: Politics, Economics, and Culture. Pearson Education, Inc.

Stephens, Mora. 1996. Global Organized Crime. Woodrow Wilson School Policy Conference 401A Intelligence Reform in the Post-Cold War Era, 6 Januari 1996. [Diakses 7 Juni 2009] <http://www.fas.org/irp/eprint/snyder/globalcrime.htm&gt;

Sullivan, Brian. 1996. International Organized Crime: A Growing National Security Threat. Institute for National Strategic Studies – Strategic Forum Nomor 74, Mei 1996. [Diakses 7 Juni 2009] < http://www.ndu.edu/inss/strforum/SF_74/forum74.html&gt;

Menurut PBB, sekitar 25.000 orang di seluruh dunia meninggal setiap hari karena kelaparan atau penyebab-penyebab lain yang berhubungan dengan kelaparan. Dengan kata lain, setiap 3,5 detik satu orang meninggal dunia. Ironisnya, mayoritas yang meninggal adalah anak-anak.[1]

Bumi ini sebenarnya menyediakan makanan yang cukup banyak bagi manusia. Masalahnya adalah orang-orang yang kelaparan umumnya terjebak pada kemiskinan. Mereka kekurangan uang untuk membeli kebutuhan hidup mereka. Karena kekurangan, umumnya mereka akan sakit dan semakin lemah. Hal ini mengakibatkan mereka semakin tidak mampu bekerja dan menjadi semakin miskin dan semakin kelaparan. Ini seperti lingkaran setan kemiskinan yang tidak ada habisnya hingga orang tersebut dan keluarganya meninggal dunia.

Kemiskinan merupakan suatu kondisi di mana seseorang tidak memiliki cukup sumber daya dan pendapatan. Ekstrimnya, mereka kekurangan kebutuhan dasar manusia seperti makanan bergizi, pakaian, rumah, air bersih, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan sebagai warga negara. Orang-orang termiskin di dunia rata-rata hidup di kawasan yang sedang berkembang seperti Afrika, Asia, Eropa Timur, dan Amerika Latin. Sedangkan di kawasan yang cukup sejahtera seperti Amerika Serikat, Kanada, Jepang, dan Eropa Barat, fenomena yang terjadi berupa kekurangan nutrisi, penyakit mental, ketergantungan terhadap obat-obatan, dan penyakit tingkat tinggi.[2]

Secara lengkap, kemiskinan dapat dipahami dalam berbagai cara, antara lain:

  • Kekurangan materi, mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan.
  • Kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk bersosialisasi dengan masyarakat, mencakup pendidikan dan informasi.
  • Kekurangan penghasilan dan kekayaan yang memadai.

Kemiskinan dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Kemiskinan ekstrim atau miskin hingga mengancam kesehatan atau kehidupan seseorang dikatakan sebagai kemiskinan absolut. Kemiskinan ekstrim di Amerika Serikat misalnya, didefinisikan memiliki pendapatan per tahun kurang dari setengah dari batas kemiskinan yang sudah ditentukan. Sedangkan kemiskinan ekstrim di negara berkembang didefinisikan oleh organisasi internasional yaitu memiliki pendapatan kurang dari 1 US Dolar per hari. Kemiskinan relatif merupakan suatu kondisi di mana seseorang memiliki sumber daya atau pendapatan yang kurang dibanding lainnya dalam suatu komunitas atau negara atau ketika dibandingkan dalam skala dunia.

Kemiskinan terjadi disebabkan karena berbagai macam faktor yang memiliki kompleksitas tinggi karena dalam banyak kasus, penyebab dan dampak kemiskinan saling berinteraksi. Kemudian yang terjadi adalah apa yang menyebabkan seseorang miskin juga membuat suatu kondisi yang menyebabkan mereka tetap miskin. Beberapa faktor primer yang menyebabkan kemiskinan antara lain:

  • Tingkat populasi tinggi dengan kondisi sumber daya dan ruang terbatas
  • Distribusi sumber daya yang tidak seimbang dalam ekonomi dunia
  • Ketidakmampuan untuk mengikuti standar hidup tinggi
  • Ketidakmampuan mengakses pendidikan dan pekerjaan
  • Degradasi lingkungan (atmosfer, air, tanah, hutan)
  • Tanggung jawab individu dan ketergantungan terhadap kesejahteraan

Kemiskinan dipandang dalam banyak perspektif oleh masyarakat. Ada yang menganggap kemiskinan sebagai suatu struktur sosial di mana yang miskin akan tetap miskin sedangkan yang kaya akan senantiasa kaya. Ada juga yang beranggapan bahwa kemiskinan dipandang sebagai kegagalan suatu institusi sosial seperti pasar dan sekolah pekerja. Kemiskinan seperti ini dianggap hanya dikontrol oleh orang-orang yang sudah berpengalaman.

Pendapatan merupakan tolak ukur umum dalam mendefinisikan kemiskinan. Dalam ekonomi internasional, PBB memiliki data statistik berapa tingkat GDP (Gross Domestic Product) masing-masing negara di dunia. Yang dilihat ketika mengukur bagaimana tingkat kemiskinan suatu negara adalah dengan GDP per kapita. Dengan kata lain, jumlah populasi akan berpengaruh terhadap pendapatan per kapita.

Dalam memerangi kemiskinan, negara maju sudah memiliki program ekstensif antikemiskinan, yang biasanya dimasukkan ke dalam sistem keamanan dan kesejahteraan sosial. Negara berkembang juga sudah memiliki suatu bentuk keamanan sosial, namun program-program tersebut tidak cukup untuk mengeluarkan masyarakatnya dari kemiskinan. Organisasi internasional juga memiliki program-program untuk membantu pemerintahan suatu negara dalam pengurangan angka kemiskinan, baik berupa dana maupun saran. Beberapa organisasi tersebut antara lain:

  • IGO (International Government Organizations), seperti United Nations Children’s Fund, United Nations  Food and Agriculture Organization.
  • Government Aid Agencies, seperti United States Agency for International Development (USAID).
  • NGO (Non Governmental Organizations), seperti Doctors Without Borders, Red Cross.
  • Private Development Banks, seperti Bank Dunia, IBRD (International Bank for Reconstruction and Development).

Dari sini dapat kita lihat bahwa ada common willingdari masyarakat internasional untuk mengurangi dan memberantas kemiskinan di seluruh dunia.

Krisis keuangan hebat sedang terjadi di level internasional. Krisis keuangan global ini berawal dari krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2008 lalu. Menurut Kompas, krisis ekonomi Amerika Serikat disebabkan karena penumpukan hutang nasional yang mencapai 8,98 triliun USD, pengurangan pajak korporasi, serta pembengkakan biaya perang melawan Irak dan Afghanistan. Namun yang paling penting adalah karena macetnya kredit perumahan yang kemudian diikuti oleh bangkrutnya banyak raksasa keuangan seperti Lehman Brothers, Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock, UBS, dan Mitsubishi UF.[1]

Bangkrutnya raksasa keuangan tersebut berpengaruh terhadap bursa saham di seluruh dunia. Bursa saham di kawasan Asia seperti Jepang, Hongkong, Cina, Australia, Singapura, India, Taiwan, dan Korea Selatan bahkan mengalami penurunan sebanyak 7 hingga 10 persen. Bursa saham di kawasan Timur Tengah, Rusia, Eropa, Amerika Selatan, dan Amerika Utara juga terkena dampaknya, tidak terkecuali di Amerika Serikat sendiri. Para investor di bursa saham Wall Street mengalami kerugian yang besar. Bahkan surat kabar New York Times menyebut peristiwa ini sebagai kerugian paling buruk setelah peristiwa 11 September 2001.[2]

Bukti bahwa krisis keuangan Amerika Serikat telah memberikan dampak yang cukup signifikan bagi perekonomian dunia adalah beberapa kutipan dari harian beberapa negara.

  • Harian dari Italia La Republica yang terbit di Roma dalam tajuknya berkomentar : “Saat ini Amerika Serikat dilanda resesi yang sangat serius dan menyakitkan. Kini pertanyaannya adalah: Seburuk apa fase konjunktur ini, dan apakah akan dapat meruntuhkan ekonomi Amerika Serikat secara mendadak? Di Eropa, terutama  Bank Sentral Eropa walaupun menyadari hal itu merupakan ilusi, masih tetap mengharapkan bahwa mereka masih dapat melindung kawasannya atau menepis dampak dari krisis berat ekonomi di Amerika Serikat. Namun, di tahun 2008 ini Eropa tidak akan lagi mampu menahan dampak krisis ekonomi dari Amerika Serikat dan akan ikut tergilas.”
  • Harian Dernieres Nouvelles d`Alsace yang terbit di Strassburg, Prancis, juga mengomentari dengan tajam krisis ekonomi dunia tersebut: “Di Jerman serikat buruh menuntut kenaikan gaji sampai 8 persen untuk mengimbangi daya beli yang terus menurun. Juga di Prancis menurunnya daya beli menjadi topik bahasan. Namun dalam kenyataannya penurunan daya beli ini adalah masalah seluruh Eropa. Di mana-mana pertumbuhan ekonomi harus dikoreksi ke bawah. Bank Sentral Eropa mengecam tuntutan serikat buruh khususnya dengan menyoroti Jerman sebagai penggerak ekonomi Eropa. Ekonomi global mengalami perubahan drastis. Krisis kredit di Amerika Serikat menunjukkan betapa rentannya globalisasi moneter. Para aktor baru ekonomi juga muncul di luar rencana. Seperti halnya dana simpanan jangka panjang dari negara-negara penghasil minyak bumi, yang merupakan investasi jangka panjang. Yang berbeda dari dana pensiun, yang hanya tertarik pada keuntungan jangka pendek. Perubahan drastis dalam sirkulasi keuangan tidak dapat diabaikan lagi.”[3]

Dalam sejarah ekonomi, ternyata krisis terjadi beberapa kali dan berulang-ulang. Hal ini dikupas oleh Roy Davies dan Glyn Davies dalam bukunya yang berjudul The History of Money From Ancient time oi Present Day. Mereka menyatakan bahwa sepanjang abad ke-20 telah terjadi 20 kali krisis besar yang melanda banyak negara seperti krisis perbankan internasional pada tahun 1907, The Great Crash dan Great Depression pada tahun 1929-1930, Deep Resession pada tahun 1978-1980, krisis dunia ketiga pada tahun 1980, krisis Asia Tenggara pada tahun 1997-2002, dan sekarang krisis keuangan melanda Amerika Serikat.[4]

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia jelas tidak bisa luput dari dampak krisis keuangan global tersebut. Beberapa dampak yang terjadi antara lain rupiah semakin melemah, IHSG tidak sehat, ekspor terhambat karena Amerika Serikat dinilai akan banting harga, dan lain-lain. Pemerintah bahkan sempat menghentikan aktivitas pasar modal selama beberapa hari.

Pemanasan global merupakan fenomena yang sedang menjadi perhatian utama dunia internasional. Bagaimana tidak? Negara-negara besar yang merupakan negara industri merasa turut bertanggung jawab terhadap meningkatnya suhu bumi. Berdasarkan hasil penelitian, dunia telah mengalami kenaikan temperatur cuaca sebanyak 3 derajat Celcius sejak jaman praindustri.

Faktor manusialah yang diperkirakan menjadi faktor utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa rata-rata aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi matahari dan keseluruhan permukaan bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Karbon dioksida adalah penyumbang utama gas kaca, sedangkan sumber utama peningkatan karbon dioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, pengaruh perubahan permukaan tanah karena pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es.[1]

Saya ingin menyoroti fenomena mencairnya salju di Greenland. Salju yang mencair memberi pengaruh yang besar terhadap luas lapisan es yang terus berkurang dan terhadap tinggi dan dalam lautan di seluruh dunia. Salju yang mencair juga akan menyerap 3-4 kali energi yang diserap oleh salju kering. Hal tersebut tentu akan berpengaruh besar terhadap persediaan energi di bumi.[2]

Masalah pemanasan global sudah sering kali diwacanakan dan sepertinya akan semakin mendapat perhatian di kalangan dunia internasional. Sebenarnya pemanasan global itu merupakan fenomena yang tidak terhindarkan atau ada karena ulah manusia? Pertama, para peneliti menemukan bahwa iklim bumi itu selalu berubah. Bahkan, studi iklim di jaman es memperlihatkan bahwa iklim bumi bisa berubah dengan sendirinya secara radikal. Kedua, para peneliti juga mengatakan bahwa pemanasan global tidak lain adalah dampak dari ulah manusia itu sendiri. Menurut saya, setiap fenomena pasti ada penyebabnya. Pemanasan global terjadi bisa jadi karena memang kedinamisan bumi dan alam ini, dan bisa juga karena ulah manusia yang destruktif yang semakin mendorong terjadinya kerusakan di muka bumi. Sekarang tinggal kita memilih menjadi manusia yang destruktif atau justru berusaha mencari solusi untuk menyelamatkan bumi, karena pada dasarnya manusia adalah pemimpin di muka bumi.

Globalisasi

Globalisasi adalah proses pengglobalan, sebuah proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi adalah sebenarnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai kepada sebuah kesepakatan dan menjadi pedoman bersama. Ada dua dimensi dalam globalisasi, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit sehingga muncul term “global village”[3] dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi dengan masyarakat di dunia. Globalisasi mencakup semua bidang yaitu ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan lain-lain.[4]

Faktor utama yang memudahkan globalisasi yaitu adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini berkaitan dengan dimensi ruang dan waktu yang kita bicarakan sebelumnya. Informasi yang ada dapat tersebar luas ke seluruh dunia dengan cepat dan mudah karena perkembangan teknologi tersebut.

Globalisasi memberikan dampak yang positif sekaligus negatif. Positif karena globalisasi mendorong persaingan negara untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Negatif karena melemahkan posisi negara dalam percaturan ekonomi dan politik internasional. Negara menjadi semacam tidak berdaulat karena muncul ketergantungan terhadap negara lain.